Selasa, 25 Oktober 2016

Ardynal Story Part 1

Ketika senja merah merona, burung – burungpun mulai kembali ke sarangnya. Akupun terdiam sesaat, bukan karena takjub dengan hal itu, tapi itulah ha yang aku ingat sebelum aku berteman dengan kegelapan. Ya, sekarang aku buta. Bisa dikatakan dengan bahasa halusnya aku tuna netra, ufh, kuhela nafas panjang dan kusandarkan punggungku di kursi favoritku. Ingatanku menerawang jauh saat ini belum terjadi. Kebutaanku terjadi pada saat umurku 21 tahun ataku masih bisa melihat imdahnya gemerlapnya bintang dan ciptaan tuhan yang paling sempurna yaitu wanita . Ya hanya pria bodoh yang belum mengenal wanmita. Dulu sewaktu aku masih muda, bisa dikatakan aku adalah orang yang pendiam tapi pemuh dengan banyak aktivitas. Musik adalah hobiku, ya entah kenapa aku begitu menyukainya. Sejak pertama kalinya ibuku membelikan aku gitar. Dunia terasa indah rasanya tapi dulu tidak. Bukannya aku tidak mensyukuri karunianya tapi itulah perjalanan hidupk. Aku memang berada pada keluarga yang bisa dikatakan cukup. Karena kegilaanku pada gitar yang membuat ayahku memusuhiku. Ayahku memang pintar dan pekerja keras. Dia sanggup bekerja 24 jam tanpa berhenti, ya ayahku seorang insinyur terknik sipil pada salah satu instasi pemerintahan. Ayahku berprinsip bahwa matematika adalah yang paling utama di dunia. Prinsip itulah yang membuat perselisihan diantara kami. Ayahku berkata bahwa musik tidak dapat dijadikan pegangan untuk hidup dibandingkan dengan matematik.a sakit sih mendengarkan celotehan itu akan tetapi entah bagaimana hasrat untuk bermain gitar semakin menggebu – gebu. Sampai suatu hari ayahku membanting gitar kesayanganku satu – satunya dihadapanku karena nilaiku jeblok karena aku terlalu banyak ngeband. Rasanya sedih sekali dan rasa kesal menghampiriku tapi bukan karena ayahku, tapi karena kegilaanku dengan gitar. Selain musik hobikku yang lain adalah olah raga yaitu berenang dan bermain basket. Untuk hobiku yang ini memang tidak bermasalah krena aku tidak membutuhkan waktu lama dalam berolah raga. Paling mengasyikan adalah bermain basket bersama teman – temanku, ya karena permainan ini adalah permainan kelompok yang membutuhkan kerjasama tim. Sampai pernah suatu hari tim basket kelas kami ditantang bermain dengan kelas lain. Wah itu pengalaman yang tidak akan terlupakan olehku karena sewaktu kita memenangkan pertandingan rasanya sangat bangga dan puas walaupun keringat bercucuran membasahi tubuhku. Apalagi aku memiliki tetangga yang berprofesi sebagai atlit basket dan dialah yang mengajariku bermain basket. Alvin namanya dan dia adalah anak dari pimpinan ayahku. Kebetulan sekali rumahku berdekatan dengan kamppuss yang terdapat lapangan basketnya jadi lengkaplah fasilitas yang aku butuhkan untuk bermain basket. Untuk hhobiku yang satu ini tidak begitu mengalami masalah. Selamat tinggal mataku indah mataku sayang Sewaktu aku sedang menyelesaikan tugas akhir pada pendidikan diploma 3 salah satu perguruan tinggi, kepalaku sering pusing tanpa sebab. Aku kira hanya pusing bisaa dan aku tak pernah memperdulikannya, tapi pusing itu sangat menggangguku dan membuatku kesal sehingga aku berinisiatif pergi ke toko optik untuk memeriksakan mataku. Sejak kecil memang aku sudah memakai kacamata, mungkin minusku tambah pikiranku. Set elah kuganti minusku pada kacamata dengan yang baru kepalaku tetap saja pusin. Aku mengadi bingug dengan apa yang kualami. Apalagi lama kelamaan semakin parah dan pandanganku mulai berkurang bahkan terkadang aku tidak dapat melihat dengan kondisi cahaya yang sedikit atau terlalu terang. Sempat berpikir karena minusku terlalu tinggi tapi anehnya temanku yang minusnya llebih tinggi tidak separah aku yang dibandingkan dengan perbandingan minus. Untunglah aku dapat menyelesaikan tugas akhirku sampai selesai walaupun ada sedikit hambatan. Ketika ayahku hendak pergi mengunjungi saudaranya yang berada di jakarta aku mencoba meminta ayahku untuk mengantarkan ke klinik spesialis mata yang berada di bandung. Ayahku menyetujuinya dan kita berangkat bersama menuju bandung dan sekalian jakarta untuk memeriksakan mata sekaligus berkunjung ke saudara. Setelah mendapati berbagai tahap pemeriksaan yang cukup lama akhirnya dokter menjelaskan hasil diagnosisnya bahwa aku terkena penyakit genetik pada mataku yang mengenai retina mata. Menurutnya aku mengalami degenerasi pada mataku yaitu penurunan kemampuan mata . Bahkan aku akan mengalami kebutaan atau tidak dapat melihat samaseekali atau disebut buta total. Bagaikan tersambar petir di siang bolong, kaget bercampur sedih merasuki tubuhku. Beberapa saat aku terdiam dan tak mampu berpikir, satu kalimat yang merubah hidupku untuk selamanya. Dengan berkaca – kaca aku memeluk ayahku, dan ayahku memelukku dengan erat. Inilah pertama kalinya aku merasakan hangatnya pelukan ayahku, ternyata dibalik kesangaranya dia juga menyayangiku seutuhnya.aku menangis sejadi – jadinya didalam pelukan ayahku. Hatiku hancur, ya benar – benar hancur, otakku tiba – tiba saja berhenti. Aku tidak dapat lagi berpikir. Dadaku terasa sesak, berat sekali menghirup udara disekitarku. Ayahku berusaha membesarkan hatiku walaupun aku tahu dia juga merasakan hal yang sama. Setelah beberapa menit lamanya aku berusaha menetralkan emosiku walaupun rasa sesak ini tidak mudah aku lupakan. Semua mimpiku hancur sudah dan aku tidak bisa mengangkat kepalaku, rasanya dunia menertawakan dan mengejekku, aku terduduk lemas dan hampir tidak percaya dengan apa yang kualami ini. Kenapa ini harus terjadi pada diriku dan kenapa bukan orang lain saja. Lebih parah lagi ketika melihat teman – temanku yang begitu bersemangatnya mencari kerja settelah lulus kuliah, ada yang merantau keluar kota bahkan sampai keluar pulau dan setiap kali pulang dapat menceritakan pengalamannya yang menarik di termpat perantauanya. Terkadang sedikit bersyukur karena teman – temanku masih sering mengunjungiku walaupun dengan kondisiku yang seperti ini. Ya mungkin tidak sebanyak sewaktu dulu, tapi lunayanlah untuk menghiburku diwaktu suntuk. Setelah paska dari diagnosis itu keluargaku sering membawaku berobat alternatif dengan harapan aku dapat kembali seperti sediakala, tapi aku tidak dapat melihat harapan itu ada bahkan terkadang aku semakin trauma karena teknik pengobatan yang terkadang menyakitkan tubuhku termasuk mataku. Ada yang mengatakan aku memiliki banyak dosa sehingga memintaku untuk bertobat. Terkadang aku mulai percaya dan berusaha untuk bertobat serta mempe rbanyak berdoa untuk kesembuhanku tapi justru aku semakin terpuruk dalam lingkaran penyeselan yang aku sendiri tidak tahu apa yang harus kusesali lagi.. Ah kenapa rasa sesak ini masih menggelayut terus didalam hatiku dan seolah Aku semakin terhanyut dalam keputus asaan, apalagi melihat adik adikku tumbuh semakin besar dengan banyak kesuksesan. Beruntung adik – adikku sangat perhatian padaku, mereka mengerti apa yang sedang kurasakan. Mereka berusaha menghiburku dengan cara mereka masing - masing.. Aku memiliki dua adik, yang paling besar umurnya selisih satu tahun denganku, namanya yanti, dialah adikku yang paling dewasa bisa dikatakan dia adalah manager dari keluargaku yang berurusan dengan masalah keuangan. Dialah orang pertama yang tahu siapa diriku yang seutuhnya. Dengan yantilah aku bisa menceritakan apa saja, apalagi selisih umur kita yang tidak terlalu jauh yaitu hanya selisih satu tahun. Yamti adalah anak yang pintar dandan dia adalah orang yang bisa diandalkan oleh semua orang termasuk teman - temannya. Bisa dikatakan dia adlah perempuan idaman para lelaki. Lebih hebatnya lagi dia sanggup mendengarkan celotehanku yang aku sendiri tidak tahu apakah omonganku masih waras atau tidak, tapi yanti selalu mendengarkan dengan seksama. Bahkan disaat aku tidak memiliki uang sama sekali yanti selalu membelikanku makanan kesukaanku dengan uang hasil jerih payahnya. Ya setelah lulus kuliah terkadang aku malu untuk meminta uang saku ke orang tuaku. Inilah penderitaan terbesarku, terpuru, tidak punya uang, tak dapat bergerak bebas, sendiri, terhina.(Bersambung ke Postingan Selanjutnya)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar