Jumat, 28 Oktober 2016

Ardynal Story 4

Tuhan tunjukan jalanku
Kehidupanku mulai membaik tapi tidak selamanya sebab kehidupan terus berputar. Orang orang disekelilingku mulai sadar ternyata banyak yang bisa dilakukan dengan hal yang kecil. Dimulai dari karyawan laundryanku yang sangat kupercaya ternyata secara diam – diam mempelajari cara aku mengelola laundryanku. Akhirnya dia keluar dan membuka usaha yang sama, bahkan berusaha mempengaruhi pelangganku, belum lagi tetangga sekitar juga membuka usaha yang sama karena mereka tersadar bahwa dengan modal minim bisa juga membuka usaha tanpa resiko tinggi.
Tapi laundryanku tetap berjalan walaupun banyak rintangan. Masalah berikutnya adalah temanku yang selalu mengirimkan buah strawberry ternyata harus berhenti juga karena mulai banyak peminatnya. Ya aku tahu itulah resiko kita berbisnis. Akhirnya jus mulai ku berhentikan untuk sementara waktu karena memang aku kekurangan stok. Begitu juga bisnis pulsaku terpaksa aku hentikan karena aku sudah mulai kepayahan untuk melihat sms, jadi kalau ada yang meminta untuk dikirim pulsa terkadang tidak dapat kukirimkan karena aku sudah tidak bisa lagi membaca sms di ponselku. Yang terakhir adalah bisnis jamurku. Aku memang tidak bisa mengelola sendirian dan itulah kelemahanku selama ini. Eko temanku yang bisaanya mengurus jamur terpaksa harus keluar karena dia akan menikah. Sehingga terpaksa jamur aku hentikan juga walaupun sudah kugantikan dengan orang lain tapi berbeda dengan eko karena eko memiliki semangat dan etos kerja yang baik dan tanpanya aku tidak begitu antusias. Mungkin agak sedikit terhibur karena orangtuaku membuatkan aku kontrakan per kamar untuk penghasilan utamaku, tapi aku tidak begitu bangga karena itu bukan hasil jerih payahku. Apalagi banyak yang mencemoohku. Banyak yang berkata atau memandang aku keterlaluan, ya sudah buta tapi masih ngerjain orang dan semua yang kulakukan itu tanpa bantuan orang lain pasti tidak akan bisa. Ya mereka benar aku terlalu berambisi dengan dunia. Tadinya aku berpikir uang segalanya, jadi dengan uang aku bisa memiliki segealanya termasuk wanita, tapi kenyataannya tidak. Semua orang akan selalu mengingatku sebagai orang yang cacat dan buta. Itu harga mati buatku. Aku tersadar ketika melakukan meditasi lagi, sekarang aku menjauh dari niat awalku, ya niat awal yang tadinya ingin berbagi dengan orang lain berubah menjadi sedikit egois. Aku terpengaruh kata orang yang berkata sebelum menolong orang lain tolonglah dirimu sendiri. Uang memang bukan segalanya tapi segalanya butuh uang. Ah tapi kata – kata itu tidak berguna untukku, sebab sehebatnya aku mencari uang, tetap saja orang akan menganggap aku cacat dan buta, ya aku buta. Sampai suatu hari ketika aku dan ibuku akan menuju ke kota bandung, diperjalanan ada yang menyapa kami. Pak agus namanya, dia mengerti keadaanku dan menyarankan agar aku segera pergi ke wyataguna di bandung. Ya sebuah yayasan tunanetra terbesar di indonesia karena dibawah naungan kementrian. Ya ternyata tuhan mendengar apa yang aku inginkan. Ya aku menginginkan suasana baru dan inilah tempat terbaik untuk bersembunyi sementara dari kekacauan hidupku. Dan secara singkat aku sudah berada di wyataguna bandung. Wyataguna dan tunanetra Malam tahun baru china adalah moment pertamaku sewaktu meninggalkan kota tercintaku purwokerto. Secara singkat aku sudah berada ditempat yang memang seharusnya aku berada. Aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi disitu, yang jelas aku ingin berlari sejauhnya dari kehidupanku dulu. Aku ingin menjadi manusia baru, ya paling tidak aku bisa bernafas sejenak dari semua masalahku yang entah sengaja atau tidak memang aku timbulkan. Pertama kalinya orang yang aku kenal disitu adalah bu hermin dan pak yatino yang mengantarku ke tempat itu dan seorang teman satu kota sesama penyandang tunanetra adalah trisno pria yang bertubuh tinggi dan berkulit sawo matang. Untuk beberapa saat aku tertegun sejenak, ya memang disini adalah tempat berkumpulnya semua tunanetra dari seluruh prnjuru nusantara dan ternyata banyak juga orang yang bernasib sepertiku bahkan lebih parah. Ada yang tidak dapat melihat sama sekali bahkan tidak memiliki mata, tapi mereka dapat berjalan dengan normal tanpa ketakutan sepertiku yang harus berjalan pelan karena takut jatuh atau menabrak sesuatu. Dilingkungan tunanetra terbagi dua jenis yaitu total dan low vision. Total adalah tunanetra yang sama sekali tidak dapat melihat sama sekali sedangkan low vision adalah tunanetra yang dapat melihat tapi tidak sesempurna orang normal dan aku pada saat itu adalah low vision parah karena aku hanya bisa melihat cahaya saja. Ada sedikit kedamaian disana. Untuk sejenak aku bisa melupakan hiruk pikuk kehidupan diluar sana. Ternyata aku tidak sendirian. Ada bermacam – macam penyandang tunanetra yang disebabkan oleh banyak faktor. Ada yang memang dari kecil dan ada yang karena disebabkan faktor luar seperti kecelakaan, genetik sepertiku dan akibat salah pola hidup seperti terlalu banyak minuman keras atau terlalu stres dan lainnya. Ya aku merasa bersyukur tbisa berjalan dengan leluasa dan memulai hidup baru lagi. Wyataguna seperti surga bagiku. Tuhan, ternyata aku lumayan baik keadaannya. Lebih tertegun lagi ketika melihat masih banyak penyandang tunanetra yang sedang menjalani proses pendidikannya dengan semangat walaupun mereka sadar umur mereka tidak sesuai dengan strata pendidikannya, misalnya ada yang masih duduk di sekolah menengah luar bisaa di kelas satu qwalaupun umur mereka sudah 20 tahun lebih bahkan ada yang harus mengikuti program persamaan setingkat sd walaupun umur mereka sudah lebih dari 30 tahun. Ah terkadang ada senyum dibibirku karena melihat tingkah lucu mereka. Ya ada banyak tingkah laku mereka yang membuatku tersenyum bahkan sampai tertawa terbahak – bahak karena ada saja hal lucu yang membuatku bisa sejenak melupakan masa laluku yang penuh dengan hal yang menyedihkan. Ya ada temanku yang bermain piano dengan kepala yang hampir menyentuh tuts piano, menurut dia adalah gaya terkeren tapi menurutku si konyol. Dan tak jarang pula kita harus bertabrakan satu sama lainnya karena kurang koordinasi alias tidak saling memberi isyarat berupa suara. Ternyata disini kita semua senasib. Dulu aku merasa malu dan sedih ketika harus menabrak tembok atau terjatuh di selokan karena ketidakhatian berjalan tapi disini aku malah tertawa geli karena ternyata semua juga melakukan hal yang sama. Dan hebatnya lagi seiring dengan berkembangnya teknologi yang semakin maju kita kaum tunanetra bisa melakukan hal yang sama seperti orang normal seperti menulis walaupun harus menggunakan huruf braile, berjalan dengan tongkat yang diseting untuk tunanetra bahkan sekarang kita bisa mengetik dan membaca pesan di ponsel dengan aplikasi khusus untuk tunanetra sehingga ponsel kita dapat berbicara, kita juga dapat menggunakan internet dengan ponsel juga dapat mengoperasikan komputer atau laptop. Dan yang sangat luar bisaa lagi kita sekarang dapat membaca buku untuk orang normal dengan fasilitas aplikasi tambahan pada komputer. Hah sekarang aku hidup kembali, apa yang dulu aku lepas satu persatu karena ketidakmampuanku melihat sekarang justru tuhan mengembalikan lagi walaupun tidak sesempurna dulu. Ini yang aku inginkan dari dulu, punya banyak teman, jauh dari dunia luar yang menyebalkan, bisa tertawa lepas dan saling berbagi dengan teman sejenisku. Aku tahu pasti banyak orang yang menertawaiku dan senyum bangga penuh kemenangan karena telah berhasil menyingkirkanku dari duniaku yang dulu penuh tantangan tapi aku tak perduli lagi yang penting sekarang aku menikmati duniaku yang sekarang, dunia bersama teman – temanku yang harus kuperjuangkan agar mereka siap melangkah ke dunia luar yang penuh tantangan dan ketidakjelasan. Ketidakjelasan yang dimaksud adalah setelah selesai dari wyataguna apa yang mereka ingin lakukan? Apakah kembali kekampung halamannya dan hidup seperti dulu lagi? Atau menjalani kehidupan baru yang tidak tahu apa jadinya. Itulah kecemasan aku dan teman – temanku rasakan. Mungkin aku bisa bernafas lega sedikit karena aku sudah memiliki pengalaman dan ssesuatu yang bisa diandalkan di purwokerto sehingga aku tidak perlu menggantungkan hidupku lagi kepada siapapun tapi temanku mungkin tidak banyak yang bisa sepertiku. Sekarang aku mengerti maksud tuhan mengirimku kesini. Ya supaya aku bisa merasa lebih bersyukur dan bisa membagi pengalamanku disitu. Kehidupan di wyataguna Setiap paginya kita selalu berkumpul di lapangan depan auditorium untuk melaksanakan apel pagi. Mungkin banyak orang yang bingungbbagaimana kita bisa berbaris. Ya kita berbaris dengan dibantu oleh para low vision dan ketika ada perintah untuk lancang depan agar meluruskan barisan kita menggunakan kedua tangan kita ke depan pundak teman kita tidak seperti orang normal yang hanya menggunakan tangan satu saja. Di apel pagi bisaanya pembina apel memberikan informasi dan nasehat positif untuk kita agar lebih bersemangat dan menjaga kondisi kita agar tetap sehat dan bugar sehingga kita dapat melaksanakan aktifitas dengan baik. Di wyataguna ini para penyandang tunanetra yang baru masuk bisaanya dimasukkan ke kelas observasi yaitu kelas awal untuk penyesuaian terlebih dahulu. Dikelas tersebut terdapat program yang harus diikuti. Kelas baca tulis braille yyang mengajarkan kita menulis huruf braille dan membacanya. Mungkin karena aku sudah mengenal huruf alfabet sewaktu kecil sehingga aku tidak begitu sulit beradaptasi, tapi belum tentu bagi yang dari kecil belum mengenal alfabet, mereka membutuhkan waktu cukup lama bahkan ada yang harus berjuang keras untuk menguasai braille tersebut. Akupun harus mengulang lagi pelajaran waktu kecil dulu mengenal tanda baca, huruf dan cara penulisan hanya saja aku harus menggantinya dengan huruf braille yaitu dengan menusukkan pen ke atas kertas sehingga ada tonjolan seperti jerawat dan itulah yang disebut braille. Cara membacanyapun unik karena kita seperti menulis pada secarik kertas yang dihadapkan pada cermin, jadi cara menulis dan membacanya terbalik. Kemudian kita diajarkan tentang orientasi mobilitas, yaitu cara berjalan dengan menggunakan tongkat. Ternyata cara menggunakan tongkat tidak sembarangan sehingga dapat mengefisienkan kita dalam berjalan. Adapun diajarkan juga adl yaitu activitity dailly leaving yaitu cara beraktifitas sehari – hari. Mungkin sudah banyak yang bisa melakukan mandi, menggosok gigi, mencuci piring, dan lainnya tapi ada juga penyandang tunanetra yang belum tau juga karena mereka terbisaa di rumah tanpa melakukan apapun, di program itulah kita diajarkan. Pada saat itu aku memilih masuk ke kelas kesenian. Disana aku diajarkan cara bermain music yang benar. Ternyata banyak juga ilmu yang belum kuketahui dan hebatnya lagi para pengajar dikelasku hamper seluruhnya penyandang tunanetra juga yang memiliki musikalitas hamper sama dengan orang normal bahkan melebihinya. Aku tertegun sejenak ketika melihat guruku pak moko yang bisa bermain alat music apapun, bahkan bisa bermain gitar dengan teknik yang sangat luar bisaa. Bahkan pak moko dapat menyetem gitar tanpa panduan alat music lain dan hasilnya sama dengan setelan nada dasar umum tidak seperti aku yang harus menyetem berdasarkan alat music lain seperti organ atau lainnya. Dengan sabarnya pak moko mengajarkan banyak jenis lagu dan teknik bermain alat yang sebenarnya bahkan sesekali dengan guraunnya sedikit demi sedikit dia mengajarkan tentang nilai kehidupan ini. Aku sangat bersyukur bisa bertemu dengan beliau, ternyata ada juga orang baik didunia ini. Guruku yang lainnya adalah pak yudi seorang guru yang piawai dalam bermain organ dan piano bahkan dialah yang mengajarkanku cara mengggunakan computer. Pak yudi memang terlihat begitu santai tapi sebenarnya dia memiliki banyak sekali pengalaman hidup yang seharusnya dapat kuresapi. Dialah yang dapat membuka pikirank bahwa kita tunanetra tidak hanya sekedar memijat, kita bisa melakukan apapun yang kita mau dan suka. Yang ketiga adalah guru favoriktku pak wisnu. Dia adalah guru teaterku yang paling keren. Ketunanetraannya hamper sama sepertiku yaitu terjadi setelah besar. Banyak nilai kehidupan yang aku bisa ambil darinya. Dia seharusnya menjadi seorang artis didunia perfilman di indonesia karena bakatnya yang dapat menghayati dalam setiap perannya yang ia mainkan bahkn tampangnya hampir sama gantengnya dengan tora soediro. Ada saja kejadian kejadian yang menurut orang lain aneh, tapi bagiku ssangat lucu. Misalnya,, suatu hari aku berbincang dengan teman sekamarku amir, dia membuka pembicaraan ditengah malam yang sepi, apa yang seharusnya dilakukan yang terbaik untuk para tunanetra seperti kita. Aku hanya tersenyum dan membalikan pertanyaan itu padanya dan dia menjawab bahwa sebaiknya seluruh para tunanetra dikumpulkan pada suatu pulau dan dengan serentak seluruh para tunanetra di bom. Aku tergelak menahan tawa dimalam yang sepi itu dan kembali menanyakan apa alasannya dan dia menjawab karena kita tidak berguna didunia. Aku tertawa mendengar alasannya yang konyol itu. Tapi sedikit menahan rasa sedih juga karena begitu hinakah kita para tunanetra di dunia? Apakah karena kita tidak sempurna, haruskah kita menyingkir dari dunia ini? Tidak, tidak kita berhak hidup layak. Kita bisa menjadi apapun yang kita inginkan. Mungkin tidak sesempurna manusia bisaa, tapi paling tidak beri kami kesempatan untuk menyamakan hakdan kewajiban kita. Aku dan semua temanku tahu itu pasti sulit, tapi berilah kami kesempatan untuk berkarya, minimal untuk kami sendiri. Aku juga memiliki seorang teman sesama tunanetra yang suka sekali beribadah dan mengaji. Orangnya lucu dan suka bercanda tapi dibalik itu semua dia sangat rajin beribadah, dengan iseng aku menanyakan kenapa selalu beribadah apakah tidak merasa marah karena allah telah membuatnya seperti ini tidak seperti orang normal lainnya? Luar bisaa jawabannya justru dengan seperti ini kita diberi kesempatan untuk perbanyak beribadah dan mensyukuri karuniannya.hah ini entah jawaban konyol ataukah jawaban munafik, yang jelas aku tertegun mendengarnya. Aku berharap semua orang penyandang tunanetra memiliki jawaban yang sama. Hmmm dunia ternyata sangat indah, disini aku mendapat banyak nilai kehidupan. Aku bisa mendapatkan pelajaran hidup di tempat ini. Kekuasaan allah, takdir dan keinginan kita. Manusia selalu mempertanyakan sesuatu hal yang sebenarnya tidak perlu dipertanyakan. Seperti kematian, kiamat dan kesuksesan kita. Ya aku bisa menulis kelimat tersebut sekarang karena telah mengalami berbagai proses kehidupan yang dulu menurutku menyedihkan, tapi sekarang sangat mentyenagkan karena aku mengalami berbagai tantangan yang mungkin tidak dimiliki oleh semua manusia. Ketika penyakit retina ini menyerangku, terkadang aku selalu menyalahkan takdir dan kekuasaannya. Aku selalu meneteskan air mata kesedihan di setiap malamnya dan aku seperti sampah di dunia ini. Tapi setelah aku membaca buku the secret, quantum ikhlas dan beberapa buku motivasi lainnya aku menjadi hidup kembali.aku mulai mempraktekan apa yang terdapat dalam buku tersebut dan memang benar adanya. Sewaktu lulus dari perguruan tinggi, aku selalu mengajak beberapa temanku untuk bermain music atau ngeband. Awalnya mungkin asyik tapi lama kelamaan mereka menjadi bosan dan terlihat tidak bersemangat. Aku tahu mereka pasti memiliki beban hidup, aku tahu kita berada antara keinginan dan kebutuhan. Yang mereka butuhkan adalah uang, bukannya music atau ketenaran. Aku sempat bergumam, aku ingin ngeband sekali lagi dengan teman teman yang memang suka ngeband tanpa ada beban, dan tanpa disadari itu terwujud di wyataguna, bagkan disana aku bisa ngeband sepuasnya. Banyak hal yang terjadi pada hidupku karena keinginanku sendiri, baik disadari ataupun tidak disadari. Itlah yang aku maksud dengan kekuasaan allah, allah sangat baik kepada kita, bahkan apapun yang kita inginkan pasti dikabulkannya asalkan kita tahu cara menginginkannya. Berdoa adlah salah satu caranya, tapi ketulusann kitalah yang menjadi nilai tersendiri. Banyak juga kisah orang yang telah sukses karena dapat mengharmoniskan antara keinginan dan takdir kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar